Rapat tersebut menjadi bagian dari evaluasi program sekaligus upaya menyusun langkah penanganan yang lebih efektif terhadap persoalan stunting dan gizi kurang di daerah.
Dalam arahannya, dr. Yohnly meminta jajaran puskesmas meningkatkan pengawasan terhadap kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utama program, khususnya ibu hamil dan balita. Optimalisasi pelayanan posyandu serta intervensi bagi anak dengan kondisi gizi kurang juga menjadi perhatian.
Ia menekankan pentingnya memastikan pemberian makanan tambahan dan pelayanan gizi dapat menjangkau sasaran secara tepat waktu. Selain itu, pemantauan pertumbuhan anak harus dilakukan secara berkala sebagai langkah deteksi dini terhadap risiko stunting.
Menurutnya, keberhasilan percepatan penurunan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Karena itu, Dinas Kesehatan terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah kecamatan, desa, kader posyandu, PKK dan masyarakat.
“Data yang akurat menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan intervensi yang tepat,” sehingga tenaga kesehatan diminta aktif melakukan pemantauan terhadap keluarga yang membutuhkan pendampingan.
Melalui koordinasi dan kerja sama lintas sektor, Pemkab Sergai berharap upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat dapat terus diperkuat demi melahirkan generasi yang sehat dan berkualitas.


